“ MAKALAH TENTANG TYPUS
ABDOMINALIS ”

AKADEMI
PERAWATAN (AKPER) SERULINGMAS
MAOS
– CILACAP
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Demam tifoid pada masyarakat dengan
standar hidup dan kebersihan rendah,cenderung meningkat dan terjadi secara
endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik dibandingkan
daerah berhawa dingin. Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak, namun tidak
menutup kemungkinan untuk orang dewasa. Penyebabnya adalah kuman sallmonela
thypi atau sallmonela paratypi A, B dan C. Penyakit typhus abdominallis sangat
cepat penularanya yaitu melalui kontak dengan seseorang yang menderita penyakit
typhus, kurangnya kebersihan pada minuman dan makanan, susu dan tempat susu
yang kurang kebersihannya menjadi tempat untuk pembiakan bakteri salmonella,
pembuangan kotoran yang tak memenuhi syarat dan kondisi saniter yang tidak
sehat menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit typhus.
Dalam masyarakat, penyakit ini
dikenal dengan nama thypus, tetapi didalam dunia kedokteran disebut dengan
Tyfoid fever atau thypus abdominalis, karena pada umumnya kuman menyerang usus,
maka usus bisa jadi luka dan menyebabkan pendarahan serta bisa mengakibatkan
kebocoran usus.
Demam tifoid adalah penyakit sistemik
yang akut yang mempunyai karakteritik demam, sakit kepala dan ketidak
enakan abdomen berlangsung lebih kurang 3 minggu yang juga disertai
gejala-gejala perut pembesaran limpa dan erupsi kulit.
Rumusan
Masalah
* Pengertian Typus Abdominalis
* Penyebab Typus Abdominalis
* Jalur Masuk Kuman Penyebab Typus
* Patologi
* Etiologi typus abdominalis
* Gambaran Klinik
* Diagnosa
* Pencegahan
* Pengobatan Typus Abdominalis
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Typus Abdominalis
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna,
gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13tahun (
70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak
12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). ( Kapita selekta kedokteran edisi 3 ).
Penyakit typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut dengan gejala demam
lebih dari 1 minggu. Gangguan pencernaan yang terjadi adalah bibir kering,
lidah kotor, selaput putih, ada perut kembung nyeri tekan dan gangguan
kesadaran (ngartiyah, 1955).
Typus abdominalis juga didefinisikan
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh salmonella typhi atau salmonella paratyphi
A, B, atau C. Penyakit ini mempunyai tanda-tanda khas berupa perjalanan yang
cepat yang berlangsung lebih kurang 3 minggu disertai dengan demam, toksemia,
gejala-gejala perut, pembesaran limpa dan erupsi kulit (Soedarto, 1996).
Penyebab Typus Abdominalis
Demam typhoid timbul akibat dari
infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yang memasuki tubuh penderita melalui
saluran pencernaan. Penularan S. Typhi terjadi melalui mulut oleh makanan yang
tercemar. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oelh asam lambung.
Sebagian lagi msuk keusus halus, mencapai jaringan lemfe dan berkembang biak.
Kuman-kuman selanjutnya masuk ke jaringan beberapa organ tubuh, terutama
limpa,usus dan kandung empedu. Demam pada typhus disebabkan karena S, tyhpi dan
endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen (menimbulkan panas)
pada jaringan yang meradang.
Pada masa penyembuhan, pada
penderita masih mengandung Salmonella spp didalam kandung empedu atau di dalam
ginjal. Sebanyak 5% penderita demam tifoid kelak akan menjadi karier sementara,
sedang 2 % yang lain akan menjadi karier yang menahun. Sebagian besar dari
karier tersebut merupakan karier intestinal (intestinal type) sedang yang lain
termasuk urinary type. Kekambuhan yang yang ringan pada karier demam
tifoid,terutama pada karier jenis intestinal,sukar diketahui karena gejala dan
keluhannya tidak jelas.
Jalur Masuk Kuman Penyebab Typus
Demam tifoid adalah penyakit yang
penyebarannya melalui saluran cerna (mulut,esofagus, lambung, usus 12 jari,
usus halus, usus besar, dstnya). S typhi masuk ketubuh manusia bersama bahan
makanan atau minuman yang tercemar. Cara penyebarannya melalui muntahan,
urin, dan kotoran dari penderita yang kemudiansecara pasif terbawa oleh lalat
(kaki-kaki lalat). Lalat itu mengontaminasi makanan,minuman, sayuran, maupun
buah-buahan segar. Saat kuman masuk ke saluran pencernaan manusia,
sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian kumanmasuk ke usus
halus.Dari usus halus itulah kuman beraksi sehingga bisa ” menjebol” usus halus.
Setelah berhasil melampaui usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah
bening, ke pembuluhdarah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati,
empedu, dan lain-lain). Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni
penderita bisa mengandung kuman S typhi yang siap menginfeksi manusia lain
melalui makanan atau pun minuman yangdicemari. Pada penderita yang tergolong
carrier (pengidap kuman ini namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman
Salmonella bisa ada terus menerus di kotoran danair seni sampai bertahun-tahun.
S. thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia.
Oleh kerana itu, demam tifoid
sering ditemui di tempat-tempat di mana penduduknya kurang mengamalkan membasuh
tangan manakala airnya mungkin tercemar dengansisa kumbahan.Sekali bakteria S.
thypi dimakan atau diminum, ia akan membahagi dan merebak kedalam saluran darah
dan badan akan bertindak balas dengan menunjukkan beberapagejala seperti demam.
Pembuangan najis di merata-rata tempat dan hinggapan lalat(lipas dan tikus)
yang akan menyebabkan demam tifoid.
Patologi
HCL (asam lambung) dalam lambung
berperan sebagai penghambat masuknya Salmonella spp dan lain-lain bakteri usus.
Jika Salmonella spp masuk bersama-sama cairan, maka terjadi pengenceran HCL
yang mengurangi daya hambat terhadap mikroorganisme penyebab penyakit yang
masuk. Daya hambat HCL ini akan menurun pada waktu terjadi pengosongan lamung,
sehingga Salmonella spp dapat masuk ke dalam usus penderita dengan lebih
senang. Salmonella spp seterusnya memasuki folikel-folikel limfe yang terdapat
di dalam lapisan mukosa atau submukosa usus, bereplikasi dengan cepat untuk
menghasilkan lebih banyak Salmonella spp. Setelah itu, Salmonella spp
memasuki saluran limfe dan akhirnya mencapai aliran darah. Dengan demikian
terjadilah bakteremia pada penderita.Dengan melewati kapiler-kapiler yang
terdapat dalam dinding kandung empedu atau secara tidak langsung melalui
kapiler-kapiler hati dan kanalikuli empedu, maka bakteria dapat mencapai
empedu yang larut disana.
Melalui empedu yang infektif terjadilah
invasi kedalam usus untuk kedua kalinya yang lebih berat daripada invasitahap
pertama. Invasi tahap kedua ini menimbulkan lesi yang luas pada jaringan limfe
usus kecil sehingga gejala-gejala klinik menjadi jelas. Demam tifoid merupakan
salah satu bekteremia yang disertai oleh infeksi menyeluruh dan toksemia yang
dalam.Berbagai macam organ mengalami kelainan, contohnya sistem hematopoietik
yang membentuk darah, terutama jaringan limfoid usus kecil, kelenjar limfe
abdomen,limpa dan sumsum tulang. Kelainan utama terjadi pada usus kecil, hanya
kadang-kadang pada kolon bagian atas, maka Salmonella paratyphi B dapat
menimbulkan lesi pada seluruh bagian kolon dan lambung. Pada awal minggu
kedua dari penyakit demam tifoid terjadi nekrosis superfisial yang disebabkan
oleh toksin bakteri atau yang lebih utama disebabkan oleh
pembuntuan pembuluh-pembuluh darah kecil oleh hiperplasia sel limfoid
(disebut sel tifoid). Mukosa yang nekrotik kemudian membentuk kerak, yang dalam
minggu ketiga akanlepas sehingga terbentuk ulkus yang berbentuk bulat atau
lonjong tak teratur dengan sumbu panjang ulkus sejajar dengan sumbu usus. Pada
umumnya ulkus tidak dalam meskipun tidak jarang jika submukosa terkena, dasar
ulkus dapat mencapai dinding otot dari usus bahkan dapat mencapai membran
serosa.Pada waktu kerak lepas dari mukosa yang nekrotik dan terbentuk ulkus,
maka perdarahan yang hebat dapat terjadi atau juga perforasi dari usus.
Kedua komplikasi tersebut yaitu perdarahan hebat dan perforasi merupakan
penyebab yang paling sering menimbulkan kematian pada penderita demam tifoid.
Meskipun demikian,
beratnya penyakit demam tifoid tidak selalu sesuai dengan beratnya
ulserasi. Toksemia yang hebat akan menimbulkan demam tifoid yang berat
sedangkan terjadinya perdarahan usus dan perforasi menunjukkan bahwa telah
terjadi ulserasi yang berat. Pada serangan demam tifoid yang ringan dapat
terjadi baik perdarahan maupun perforasi.Pada stadium akhir dari demam tifoid,
ginjal kadang-kadang masih tetap mengandung kuman Salmonella spp sehingga
terjadi bakteriuria. Maka penderita merupakan urinary karier penyakit tersebut.
Akibatnya terjadi miokarditis toksik, otot jantung membesar dan melunak.
Anak-anak dapat mengalami perikarditis tetapi jarang terjadi endokaritis.
Tromboflebitis, periostitis dan nekrosis tulang dan juga bronkhitis serta
meningitis kadang-kadangdapat terjadi pada demam tifoid.
Etiologi typus abdominalis
1. Salmonella typhi
Batang gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
- antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
- antigen H(flagella)
- antigen V1 dan protein membrane hialin.
2. Salmonella parathypi A
Batang gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
- antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
- antigen H(flagella)
- antigen V1 dan protein membrane hialin.
2. Salmonella parathypi A
3. Salmonella parathypi B
4. Salmonella parathypi C
5. Feses, urin dan muntahan penderita
5. Feses, urin dan muntahan penderita
Gambaran Klinik
Masa inkubasi dapat berlangsung 7-21
hari, walaupun pada umumnya adalah 10-12hari. Pada awal penyakit keluhan dan
gejala penyakit tidaklah khas, berupa : anoreksia, rasa malas, sakit kepala
bagian depan, nyeri otot, lidah kotor , gangguan perut (perut meragam dan
sakit). Gambaran klasik demam tifoid (Gejala Khas), Biasanya jika gejala khas
itu yang tampak, diagnosis kerja pun bisa langsung ditegakkan. Yang termasuk
gejala khas Demam tifoid adalah sebagai berikut.
Minggu Pertama (awal
terinfeksi)Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit itu pada
awalnya samadengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang
berpanjangan yaitusetinggi 39ºc hingga 40ºc, sakit kepala, pusing, pegal-pegal,
anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan nadi antara 80-100 kali permenit,
denyut lemah, pernapasan semakincepat dengan gambaran bronkitis kataral, perut
kembung dan merasa tak enak,sedangkan diare dan sembelit silih berganti.
Pada akhir minggu pertama,diare lebih sering terjadi. Khas lidah pada
penderitaadalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta bergetar atau
tremor. Episteksis dapat dialami oleh penderita sedangkan tenggorokan terasa kering
dan beradang. Jika penderita ke perawat/dokter pada periode tersebut, akan
menemukan demam dengangejala-gejala di atas yang bisa saja terjadi pada
penyakit-penyakit lain juga. Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari
ketujuh dan terbatas pada abdomendisalah satu sisi dan tidak merata,
bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5 hari, kemudian hilang dengan
sempurna. Roseola terjadi terutama pada penderita golongankulit putih yaitu
berupa makula merah tua ukuran 2-4 mm, berkelompok, timbul paling sering
pada kulit perut, lengan atas atau dada bagian bawah, kelihatan
memucat bila ditekan. Pada infeksi yang berat, purpura kulit yang difus
dapat dijumpai. Limpamenjadi teraba dan abdomen mengalami distensi.
Minggu KeduaJika pada minggu
pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, yang biasanya
menurun pada pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam hari.Karena itu,
pada minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam keadaantinggi
(demam). Suhu badan yang tinggi, dengan penurunan sedikit pada pagi hari
berlangsung. Terjadi perlambatan relatif nadi penderita. Yang semestinya nadi
meningkat bersama dengan peningkatan suhu, saat ini relatif nadi lebih
lambatdibandingkan peningkatan suhu tubuh.Gejala toksemia semakin berat yang
ditandai dengan keadaan penderita yangmengalami delirium. Gangguan pendengaran
umumnya terjadi. Lidah tampak kering,merah mengkilat. Nadi semakin cepat
sedangkan tekanan darah menurun, sedangkan diare menjadi lebih sering yang
kadang-kadang berwarna gelap akibatterjadi perdarahan. Pembesaran hati dan
limpa. Perut kembung dan sering berbunyi.Gangguan kesadaran. Mengantuk terus
menerus, mulai kacau jika berkomunikasi danlain-lain.
Minggu Ketiga Suhu tubuh
berangsung-angsur turun dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu jika
terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik,
gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian
justru pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk
terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus. Sebaliknya jika keadaan makin
memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya tanda-tanda khas berupa
delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus, inkontinensia alvi dan
inkontinensia urin.Meteorisme dan timpani masih terjadi, juga tekanan abdomen
sangat meningkat diikuti dengan nyeri perut. Penderita kemudian mengalami
kolaps. Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis lokal
maupun umum, maka hal inimenunjukkan telah terjadinya perforasi usus sedangkan
keringat dingin, gelisah, sukar bernapas dan kolaps dari nadi yang
teraba denyutnya memberi gambaran adanya perdarahan. Degenerasi miokardial
toksik merupakan penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid
pada minggu ketiga.
Minggu keempat Merupakan
stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya
pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis. Relaps (berulangnya gejala
penyakit tifus abdominalis). Pada
mereka yang mendapatkan infeksi ringan dengan demikia juga hanya menghasilkan
kekebalan yang lemah, kekambuhan dapat terjadi dan berlangsung dalam waktu yang
pendek.Kekambuhan dapat lebih ringan dari serangan primer tetapidapat
menimbulkan gejala lebih berat daripada infeksi primer tersebut.Sepuluh persen
dari demam tifoid yang tidak diobati akan mengakibatkan timbulnya relaps.
Diagnosa
· Diagnosis
kerja
Dari anamnesis dan pemeriksaan
jasmani dapat dibuat diagnosis “observasi tifus abdominalis. Untuk memastikan
diagnosis perlu dikerjakan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut:
1. Pemeriksaan
yang berguna untuk menyokong diagnosis
a. Pemeriksaan darah tepi
Terdapat gambaran leukopemia,
limfositosis relative dan aneosinofilia pada permulaan sakit. Mungkin terdapat
anemia dan trombositopenia ringan. Pemeriksaan darah tepi sederhana, mudah
dikerjakan di laboratorium yang sederhana akan tetapi bergunauntuk membantu
diagnosis yang cepat
b. Pemeriksaan sumsum tulang
Dapat digunakan
untuk menyokong diagnosis. Pemeriksaan ini termasuk pemeriksaan rutin yang
sederhana. Terdapat gambaran sumsum tulang berupa hiperaktif RES dengan adanya
sel makrofag, sedangkan system eritropoesis, granulopoesis dan trombopoesis
2. Pemeriksaan laboratorium untuk
membuat diagnosis
Biakan empedu untuk menemukan
salmonella thypi dan pemeriksaan widal ialah pemeriksaan yang dapat dipakai
untuk membuat diagnosis tifus abdominalis yang pasti. Kedua pemeriksaan
tersebut perlu dilakukan pada waktu masuk dan setiap minggu berikutnya.
a. Biakan empedu
Basil salmonela thyposa dapat
ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit.
Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urin dan feses dan mungkin akan tetap
positif untuk waktu yang lama. Oleh karena itu pemeriksaan yang positif dari
contoh darah digunakan untuk menegakan diagnosis, sedangkan pemeriksaan
negative dari contoh urin dan feses dua kali berturut-turut digunakan untuk
menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan tidak menjadi pembawa
kuman (karier).
b.
pemeriksaan widal
> widal dengan titer lebih dari 1/80, 1/160 dst, semakin kecil titrasi
menunjukan semakin besar penyakitnya
> hati-hati dengan penyakit lain yang menyertai misalnya demam
berdarah atau hepatitis
· Diagnosis banding
Bila terdapat demam lebih dari satu minggu sedangkan
penyakit dapar menerangkan penyebab demam tersebut belum jelas, perlulah
dipertimbangkan pula selain typus abdominalis, penyakit-penyakit sebagai
berikut : paratifoid A, B, C, influensa, malaria, tuberculosis, dengue,
pneumonia lobaris dll.
Pencegahan
Langkah-langkah pencegahan :
- Vaksinasi dengan menggunakan vaksin T.A.B (mengandung basil tifoid dan paratifoid A dan B yang dimatikan ) yang diberikan subkutan 2 atau 3 kali pemberian dengan interval 10 hari merupakan tindakan yang praktis untuk mencegah penularan demam tifoid Jumlah kasus penyakit itu di Indonesia cukup tinggi, yaitu sekitar 358-810 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Suntikan imunisasi tifoid boleh dilakukan setiap dua tahun manakala vaksin oral diambil setiap lima tahun. Bagaimanapun,vaksinasi tidak memberikan jaminan perlindungan 100 persen.
- Minum air yang telah dimasak saja. Masak air sekurang-kurangnya lima minit penuh
- Buat air es batu menggunakan air yang dimasak.
- Gunakan penyepit, sendok, atau garpu bersih untuk mengambil makanan.Buah- buahan hendaklah dikupas dan dibilas sebelum dimakan.
- Cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum menyedia atau memakan makanan, membuang sampah, memegang bahan mentah atau selepas membuang air besar. Pilih gerai dan pengendali makanan yang bersih.
- Dalam keadaan sekarang, ada baiknya menghindari membeli makanan atau minuman pada tempat terbuka atau ramai.
Pengobatan Typus Abdominalis
Obat-obat antimikroba yang sering digunakan adalah :
·
Kloramfenikol : Kloramfenikol masih merupakan obat pilihan utama pada
pasien demam tifoid. Dosis untuk orang dewasa adalah 4 kali 500 mg perhari oral
atauintravena,sampai 7 hari bebas demam. Penyuntikan kloramfenikol
siuksinatintramuskuler tidak dianurkan karena hidrolisis ester ini tidak dapat
diramalkan dan tempat suntikan terasa nyeri. Dengan kloramfenikol,demam pada
demam tifoid dapat turun rata 5 hari.
·
Tiamfenikol : Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada demam tifoid sama
dengan kloramfenikol. Komplikasi hematologis pada penggunaan tiamfenikol lebih
jarangdaripada klloramfenikol. Dengan penggunaan tiamfenikol demam pada
demamtiofoid dapat turun rata-rata 5-6 hari
· Ko-trimoksazol
(Kombinasi Trimetoprim dan Sulfametoksazol) : Efektivitas ko-trimoksazol kurang
lebih sama dengan kloramfenikol,Dosis untuk orang dewasa,2kali 2 tablet sehari,
digunakan sampai 7 hari bebas demam (1 tablet mengandung 80mg trimetoprim dan
400 mg sulfametoksazol) dengan ko-trimoksazol demam rata-rataturun d setelah
5-6 hari.
· Ampislin dan Amoksisilin : Dalam hal
kemampuan menurunkan demam,efektivitasampisilin dan amoksisilin lebih kecil
dibandingkan dengan kloramfenikol.Indikasimutlak penggunannnya adalah pasien
demam tifoid dengan leukopenia.Dosis yangdianjurkan berkisar antara 75-150
mg/kgBB sehari,digunakan sampai 7 hari bebasdemam. Dengan Amoksisilin dan
Ampisilin,demam rata-rata turun 7-9 hari.
· Sefalosporin generasi ketiga :
Beberapa uji klinis menunjukkan bahwa sefalosporin generasi ketiga antara lain
Sefoperazon,seftriakson, dan sefotaksim efektif untuk demam tifoidtetapi
dosis dan lama pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.
· Fluorokinolon
: Fluorokinolon efektif untuk demam tifoidtetapi dosis dan lama pemberian
belum diketahui dengan pasti.
